Biografi Pengusaha Muda Pendiri
Aqua Tirto utomo
Profil
Sukses Sukses
Tirto Utomo yang lahir dengan nama Tiongkok Kwa Sien Biauw
merupakan pebisnis yang lahir di Wonosobo 9 Maret 1930 memiliki istri bernama Lisa
Utomo (Kwee Gwat Kien) dan memiliki 5 orang anak yaitu Anak pertamanya Milena,
Anak keduanya Meutia, Janto anak ketiga, Anak ke empat Yanto, dan anak ke lima
Teddy. Tirto Utomo merupakan
pengusaha besar yang pernah menempuh pendidikan di Fakultas Hukum
Universitas Indonesia. Kepopulerannya diraih berkat keberhasilannya menjalankan
bisnis Aqua Golden Missisipi. Tirto Utomo meninggal pada 16 Maret 1994 dan dimakamkan
di area pemakaman Tionghoa daerah Wonosobo.
Dalam perjalanan hidupnya Tirto Utomo menghabiskan waktu
diberbagai daerah di Indonesia. Tirto Utomo pernah bersekolah di HBS Semarang,
merupakan sekolah setingkat SMA. Tidak sampai lulus, Ia kemudian masuk ke SMAK
St. Albertus Malang. Lulus dari bangku SMK, Tirto Utomo melanjutkan pendidikan
ke bangku kuliah di Universitas Gadjah Mada. Namun dalam perjalanan
meraih gelar sarjana di salah satu universitas ternama tersebut, Ia tidak mampu
meraihnya hingga akhirnya berpindah ke Fakultas Hukum Universitas Indonesia.
Di masa kuliah, Ia masih menyempatkan diri untuk mencari uang
dengan bekerja di surat kabar harian Sin Po. Pekerjaan yang dilakoninya tidak
main-main, karena Ia mampu menjabat hingga menjadi pimpinan redaksi. Selain di
Sin Po, Tirto Utomo juga pernah berkarir di majalah Pantja Warna. Sukses di
dunia jurnalistik, pada tahun 1959 Tirto Utomo memutuskan berhenti.
Keputusan yang diambilnya kemudian kian membulatkan tekad dan
semangatnya untuk segera menamatkan kuliah di Universitas Indonesia dan bekerja
agar dapat menghasilkan uang untuk dirinya dan keluarganya. Kemauannya untuk
cepat lulus akhirnya membuahkan hasil, tak lama setelah itu Tirto Utomo lulus
dan langsung mengirimkan surat lamaran kerja ke sebuah perusahaan ternama
yang bergerak di bidang perminyakan, Pertamina. Setelah diterima di Pertamina,
Tirto Utomo ditempatkan di daerah Pangkalan Brandan Sumatra.
Karier Dan Bisnis
PT Aqua Golden Mississippi, selaku
perusahaan pertama dari Aqua Group, didirikan pada tahun 1973 di Indonesia. Ide
mendirikan perusahaan AMDK timbul ketika Tirto bekerja sebagai pegawai
Pertamina pada awal tahun 1970-an dan pegawai Petronas pada awal dekade
1980-an. Ketika itu Tirto bertugas menjamu delegasi sebuah perusahaan Amerika
Serikat. Namun jamuan itu terganggu ketika istri ketua delegasi mengalami diare
yang disebabkan karena mengonsumsi air yang tidak bersih. Tirto kemudian
mengetahui bahwa tamu-tamunya yang berasal dari negara barat tidak terbiasa
meminum air minum yang direbus, tetapi air yang telah disterilkan.
Ia dan saudara-saudaranya mulai mempelajari cara
memproses air minum dalam kemasan di Bangkok, Thailand. Ia meminta adiknya Slamet
Utomountuk magang di Polaris, sebuah perusahaan AMDK yang ketika itu telah
beroperasi 16 tahun di Thailand. Tidak mengherankan bila pada awalnya produk
Aqua menyerupai Polaris mulai dari bentuk botol kaca, merek mesin pengolahan
air, sampai mesin pencuci botol serta pengisi air karena di Indonesia sama
sekali tidak ada. Tirto mendirikan pabrik pertamanya di Pondok Ungu, Bekasi, dan
menamai pabrik itu PT Golden Mississippi dengan kapasitas produksi enam juta
liter per tahun. Tirto sempat ragu dengan nama PT Golden Mississippi yang
meskipun cocok dengan target pasarnya, ekspatriat, namun terdengar asing di
telinga orang Indonesia. Sebelum bernama Aqua, dahulu bernama Puritas (nama
lain dari Pure Artesian Water), yang berlogo daun semanggi. Tetapi, Eulindra
Lim, mengusulkan untuk menggunakan nama Aqua karena cocok terhadap image air
minum dalam botol serta tidak sulit untuk diucapkan. Ia setuju dan mengubah
merek produknya dari Puritas menjadi Aqua, karena kata Puritas sulit diucapkan.
Dua tahun kemudian, produksi pertama Aqua diluncurkan dalam bentuk kemasan
botol kaca ukuran 950 ml dengan harga jual Rp.75, hampir dua kali lipat harga
bensin yang ketika itu bernilai Rp.46/liter.
Pada tahun 1982, Tirto mengganti
bahan baku (air) yang semula berasal dari sumur bor ke mata air pegunungan yang
mengalir sendiri (self-flowing spring) karena dianggap mengandung komposisi
mineral alami yang kaya nutrisi seperti kalsium, magnesium, potasium, zat besi,
dan sodium.
Willy Sidharta, sales dan perakit mesin pabrik pertama
Aqua, merupakan orang pertama yang memperbaiki sistem distribusi Aqua. Ia
memulai dengan menciptakan konsep delivery door to door khusus yang menjadi
cikal bakal sistem pengiriman langsung Aqua. Konsep pengiriman menggunakan
kardus-kardus dan galon-galon menggunakan armada yang didesain khusus membuat
penjualan Aqua secara konsisten menanjak hingga akhirnya angka penjualan Aqua mencapai
dua triliun rupiah pada tahun 1985.
Pada tahun 1984, Pabrik Aqua kedua
didirikan di Pandaan, Jawa Timur sebagai upaya mendekatkan diri pada konsumen
yang berada di wilayah tersebut. Setahun kemudian, terjadi pengembangan produk
Aqua dalam bentuk kemasan PET 220 ml. Pengembangan ini membuat produk Aqua menjadi
lebih berkualitas dan lebih aman untuk dikonsumsi.
Pada tahun 1995, Aqua menjadi pabrik
air mineral pertama yang menerapkan sistem produksi in line di pabrik
Mekarsari. Pemrosesan air dan pembuatan kemasan Aqua dilakukan bersamaan. Hasil
sistem in line ini adalah botol Aqua yang baru dibuat dapat segera diisi air bersih
di ujung proses produksi, sehingga proses produksi menjadi lebih higienis.
Pada tahun 1998, karena ketatnya
persaingan dan munculnya pesaing-pesaing baru, Lisa Tirto sebagai pemilik Aqua
Golden Mississipi sepeninggal suaminya Tirto Utomo, menjual sahamnya kepada
Grup Danone pada 4 September 1998. Akusisi tersebut dianggap tepat setelah
beberapa cara pengembangan tidak cukup kuat menyelamatkan Aqua dari ancaman
pesaing baru. Langkah ini berdampak pada peningkatan kualitas produk dan
menempatkan Aqua sebagai produsen air mineral dalam kemasan (AMDK) yang
terbesar di Indonesia. Pada tahun 2000, bertepatan dengan pergantian milenium,
Aqua meluncurkan produk berlabel Danone-Aqua.
Danone meningkatkan kepemilikan
saham di PT Tirta Investama dari 40% menjadi 74%, sehingga Danone kemudian menjadi
pemegang saham mayoritas Aqua Group. Aqua menghadirkan kemasan botol kaca baru
380 ml pada 1 November 2001.
Tahun 2001 Banjir besar yang melanda
Jakarta pada akhir tahun menggerakkan perusahaan untuk membantu masyarakat dan
juga para karyawan Aqua sendiri yang terkena musibah tersebut. Aqua menang
telak di ajang Indonesian Best Brand Award. Mulai diberlakukannya Kesepakatan
Kerja Bersama [KKB 2002 - 2004] pada 1 Juni 2002.
Tahun 2003 Perluasan kegiatan
produksi Aqua Group ditindaklanjuti melalui peresmian sebuah pabrik baru di
Klaten pada awal tahun. Upaya mengintegrasikan proses kerja perusahaan melalui
penerapan SAP (System Application and Products for Data Processing) dan HRIS (Human
Resources Information System).
Tahun 2004 Peluncuran logo baru
Aqua. Aqua menghadirkan kemurnian alam baik dari sisi isi maupun penampilan
luarnya. Aqua meluncurkan varian baru Aqua Splash of Fruit, jenis air dalam
kemasan yang diberi esens rasa buah strawberry dan orange-mango. Peluncuran
produk ini awalnya ingin memperkuat posisi Aqua sebagai produsen minuman. Sebenarnya
Aqua Splash Of Fruit bukanlah air mineral biasa, namun masuk dalam kategori
beverages. Sehingga di dalam penjualannya tidak boleh dijemur seperti produk
air mineral, namun harus dimasukkan ke dalam lemari pendingin atau cooling box. Sayangnya, hal ini tidak terlalu
diperhatikan oleh konsumen dikarenakan kurangnya sosialisasi oleh pihak Aqua. Pada
tahun yang sama, Aqua melakukan PHK (pemutusan hubungan kerja) massal untuk seluruh
pabrik, depo dan termasuk kantor pusat.
Tahun 2005 Danone membantu korban
tsunami di Aceh. Pada tanggal 27 September, Aqua memproduksi Mizone, minuman bernutrisi
yang merupakan produk dari Danone. Mizone hadir dengan dua rasa, yaitu orange
lime dan passion fruit.
Tahun 2006-2008 Danone berupaya
untuk membuat pabrik di Serang, namun karena Danone didemo oleh warga sekitar, Bupati,
DPRD dan LSM, serta terlebih lagi kasus ini sudah sampai Gubernur Banten yang
bukan menjadi rahasia merupakan Putri dari penguasa Banten maka Danone dengan
terpaksa kalah atau membatalkan pembuatan Pabrik di Serang. Sebenarnya Danone
bisa berhasil membuat pabrik di Serang seandainya Danone mau membuatkan
fasilitas umum yaitu air bersih bagi
warga sekitar, karena sebenarnya yang dibutuhkan warga
sekitar itu hanyalah air bersih bukannya hanya sekedar survey atau malah
penghijauan. Keadaan inilah yang sayangnya justru dimanfaatkan oleh segelintir
orang untuk mencari keuntungan pribadi.
Tahun 2009 Danone akan mulai membuat
pabrik baru di Cianjur, ini merupakan pengalihan
dari Pabrik Serang yang pembangunannya sementara
ditunda.
Tahun 2010 Aqua Group mengalami
perubahan signifikan pada struktur organisasi dan operasionalnya. Perubahan
tersebut adalah proses delisting PT Aqua Golden Mississippi dari Bursa Efek Indonesia
(BEI) karena berbagai kasus sehingga status badan hukum PT AGM menjadi
perusahaan tertutup. Aqua juga memperkenalkan inovasi baru pada tutup galonnya
untuk menjaga kemurnian alam.
Tahun 2011-2012 Aqua
menyelenggarakan kampanye It's in Me untuk sosialisasi hidup sehat kepada
konsumen.
Tahun 2013 Aqua menyelenggarakan 40
tahun Aqua, program ulang tahun Aqua ke-40 dengan tagline Bersama untuk
Indonesia, dengan peluncuran logo baru.
DAFTAR
PUSTAKA
https://id.scribd.com/document/369872674/Biografi-Pebisnis-Tirto-Utomo Pendiri-Perusahan-Aqua-Indonesia
(diakses pada tanggal 24 Juni 2018
pukul 17:51 wib)
http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/55282/Chapter%20II.pdf? sequence=3&isAllowed=y (diakses pada
tanggal 24 Juni 2018
pukul 17:51 wib)
http://willysidharta.blogspot.com/2006/12/ditinggal-sang-pendiri_15.html (diakses
pada tanggal 24 Juni 2018 pukul 17:51 wib)
No comments:
Post a Comment